
Dalam sejarah panjang Rumah Batik Oey Soe Tjoen (OST), setiap generasi memikul beban zaman sekaligus menenun kisahnya sendiri. Jika era Oey Soe Tjoen ditandai kelahiran estetika batik tulis halus dan masa Oey Kam Long dirundung badai ekonomi dan penjiplakan motif, maka periode Widianti Widjaja adalah babak kebangkitan—sebuah fase ketika tradisi lama dipertahankan bukan sekadar dengan kenangan, tapi dengan keberanian melakukan inovasi. Ia memimpin Rumah Batik OST melewati masa surut, ketika pesanan menipis, tenaga produksi menyusut, dan pamor batik tulis halus nyaris tertelan industrialisasi.

Titik balik itu datang tanpa diduga sekitar tahun 2004–2005, saat seorang turis Jepang mendatangi Rumah Batik OST di Kedungwuni. Ia memesan sehelai kain bermotif Hokokai. Tapi sang turis tak sekadar meminta tiruan pakem lama: ia menantang Widianti untuk berimajinasi ulang—mengolah guratan daun, kupu-kupu, dan bunga dengan kontras warna yang lebih berani. Permintaan itu semula dianggap ganjil dan terlalu ambisius, bahkan memicu perdebatan. Namun sang turis bersikukuh dan berjanji kembali setahun kemudian. Janji itu ditepati. Meski kain pesanannya belum selesai, ia membayar lunas dan menambah empat desain baru. Kepercayaan tersebut tak hanya menyuntikkan harapan, tetapi memantik kembali nyala keyakinan Widianti bahwa batik tulis halus masih memiliki masa depan.
Baca juga >> Oey Soe Tjoen: Profil dan Perjalanan
Dari peristiwa itulah motif Hokokai kembali hidup dan menjadi gerbang masuk OST ke gelanggang baru: dunia kolektor. Sejak 2009, Hokokai menjadi motif paling dicari. Namun, setia pada falsafah eksklusivitas yang diwariskan pendahulunya, Widianti justru menghentikan produksinya saat berada di puncak permintaan. Ia memilih menghidupkan kembali motif Cuiri yang pernah dijiplak industri printing pada era sebelumnya. Terobosan Widianti tampak seperti sikap perlawanan terhadap banalitas pasar. Bagi Widianti, mempertahankan tradisi bukan berarti menolak perubahan, melainkan mengelola inovasi dengan martabat.

Reputasi OST kembali mengemuka di ruang publik. Pada 2004, Widianti tampil mewakili OST dalam kunjungan Komunitas Wastra Indonesia di Museum Batik Pekalongan. Hal itu kemudian disusul dengan partisipasi Batik OST dalam pameran internasional “Sarong Kebaya, Fashion Peranakan dan Sumber Internasionalnya” di Museum Peranakan Singapura (2011–2012). Liputan khusus Kompas (5 Desember 2005) makin mengukuhkan status OST sebagai produsen batik tulis eksklusif: satu kain dikerjakan 10–15 pembatik spesialis, dalam waktu hingga dua tahun.
Baca juga >> Generasi Kedua Batik Oey Soe Tjoen: Oey Kam Long
Di tengah gelombang industrialisasi batik Pekalongan, Widianti memilih jalannya sendiri: menjaga mutu sebagai martabat. Ia menolak produksi secara massal dan tetap mengutamakan pesanan perseorangan. Jika hasilnya belum sempurna, ia meminta pemilik kain mengirim kembali kain itu ke Rumah Batik OST. Idealisme Widianti itu menjelma sebuah komitmen yang menegaskan bahwa batik baginya bukan komoditas, tapi semacam laku hidup.
Sumber Tulisan:
Kompas, 5 Desember 2005; 12 Juni 2011; 12 Juni 2016
Wawancara dengan Widianti Widjaja (Oey Kiem Lian), 49 tahun, di Rumah Batik OST, Kedungwuni, 20 April 2025
Widjaja, Widianti. 2020. Oey Soe Tjoen: Merajut Asa dalam Sejuta Impian. (Lembaga Kajian Batik dan CV Selomita




