perempuan dan batik

Perempuan dan Sejarah Batik Pekalongan

Ilustrasi oleh Rizieq

Batik memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah Pekalongan. Keberadaan dan perkembangan industri batik di Pekalongan membuktikan bahwa lembaran sejarah kota di pesisir Jawa ini tak hanya ditulis dengan pena perjuangan yang berdarah-darah, tetapi juga ditulis dengan goresan canting di atas kain. sejarah Pekalongan tidak hanya berkutat soal politik dan hal-hal besar, tetapi juga terbentuk dari rumah-rumah industri batik yang penuh dengan keringat para pekerja, jaringan dagang batik, koperasi batik, dan sebagainya. Hingga pada akhirnya kita sekarang mengenal Pekalongan dengan julukan “Kota Batik”.

Kapan mulai ada tradisi membatik di Pekalongan masih belum dapat dipastikan. Menurut Kusnin Asa, tradisi batik di Pekalongan sudah ada sejak masa Hindu Jawa klasik, yakni kurang lebih pada abad ke VI dan XII.[i] Sementara Agustinus Supriyono mengemukakan bahwa batik Pekalongan diperkirakan mulai berkembang pada awal abad ke XIX.[ii]

Baca juga >>> Pekalongan: Kota Penjaga Tradisi Membatik

Pendapat lain mengatakan masuknya batik ke Pekalongan terjadi dalam dua fase. Pertama, menurut laporan Gubernur Jenderal Rijcklof van Goens, pada tahun 1656 di lingkungan keraton Mataram terdapat empat ribu wanita yang melakukan pekerjaan dapur, memintal, menyulam, dan melukis. Melukis di sini diperkirakan sebagai aktivitas membatik. Pada saat itu Pekalongan yang tengah dipimpin oleh Adipati Djayadiningrat sudah mulai menanam indigo yang digunakan untuk pewarna kain.[iii]

Fase kedua, masuknya batik ke Pekalongan terjadi pasca-Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830). Batik disebarkan oleh keluarga keraton dan pengikut Diponegoro ke berbagai daerah di Jawa termasuk Pekalongan. Menurut pendapat ini para pengikut Diponegoro tinggal dan mengembangkan batik di Pekalongan, antara lain di daerah Wonopringgo, Pekajangan, dan Buaran.[iv]

Apabila kita mencermati literatur sejarah, berkembangnya batik Pekalongan tak bisa dilepaskan dari peran kaum perempuan. Kita tahu, sejarah batik–termasuk di Pekalongan–tidak lahir dari mesin. Sebelum menjadi komoditas barang yang diproduksi massal dan berada di bawah kendali juragan, batik lahir dari kerja-kerja tangan manusia di teras rumah, di atas dipan, hingga di bawah cahaya redup lampu minyak. Dan itu kebanyakan dilakukan oleh tangan-tangan perempuan. Ya, sebelum menjadi industri, batik adalah kerja-kerja domestik kebanyakan perempuan Pekalongan.

Baca juga >>> Widianti Widjaja: Figur Perempuan Penerus Batik OST

Mitos, cerita, dan kisah yang berkembang di Pekalongan pun memperkuat narasi bahwa batik lahir dan berkelindan dengan dunia keperempuanan. Dalam kisah rakyat Pekalongan, batik Jlamprang dikaitkan dengan Dewi Lanjar, penguasa laut utara atau saudara perempuan Nyi Roro Kidul. Dewi Lanjar digambarkan sebagai sosok pelindung para perempuan dan menyukai kain batik bermotif Jlamprang.[v]

Di lingkungan keraton, membatik jadi bagian dari pendidikan dan kesenian kaum perempuan bangsawan. Namun di daerah pesisir utara–termasuk Pekalongan–batik meluas ke rumah-rumah rakyat. Membatik kemudian menjadi kegiatan perempuan untuk mengisi waktu di sela urusan rumah tangga.

Keadaan berubah pada pertengahan abad ke-19, namun perempuan tetap muncul dan berkelindan dalam pusaran produksi batik. Kala itu, di tengah kolonialisme Belanda, muncul nama-nama seperti Caroline Josephine von Franquemont, Lien Metzalaar, dan Eliza van Zuylen. Perempuan-perempuan Belanda itu awalnya menekuni batik tulis sampai akhirnya getol mengembangkan kerajinan itu. Kemunculan mereka kemudian mengubah pola bisnis batik dan membawanya ke gerbang industri, dari yang semula dikerjakan di rumah-rumah juragan, bergeser ke pabrik-pabrik.[vi]

Pembatik perempuan pada masa kolonial (Sumber: collectienederland.nl)

Bukan cuma bentuk produksi, di tangan perempuan Belanda batik Pekalongan juga mengalami perubahan warna dan motif. Masuklah motif bunga mawar, burung merak, kapal uap, bahkan corak-corak yang menggambarkan dongeng asal Eropa seperti Cinderella, Topi Merah, dan sebagainya. Selain pengaruh budaya Eropa (Belanda), motif batik Pekalongan juga dipengaruhi budaya Tionghoa, Arab, India, Persia, dan Turki. Saat Jepang berkuasa, masuk pula pengaruh negeri Samurai tersebut yang kemudian kita kenal sebagai Batik Jawa Hokokai.[vii]

Dalam perkembangannya, pada tahun 1880-an, para perempuan Belanda yang sebelumnya hanya memproduksi batik untuk sarung, beralih fokus. Mereka berinovasi membuat batik untuk sapu tangan, taplak meja, penutup kursi, hingga tirai. Teknik produksinya juga tak lagi melulu dengan canting (tulis), melainkan dengan stempel atau cap. Perkembangan ini berdampak besar pada industri batik di Pekalongan sehingga kota tersebut kemudian semakin dikenal luas hingga ke luar Jawa sebagai pusat industri batik ternama.

Para perempuan Indo mengenakan Batik dan Kebaya pada masa Hindia Belanda
Perempuan Belanda mengenakan Kebaya dan Kain Batik (Sumber: collectienederland.nl)

Maju dan berkembangnya industri batik di Pekalongan membawa dampak terbukanya lowongan-lowongan pekerjaan, khususnya bagi perempuan. Banyak perempuan-perempuan dari desa bekerja di perusahaan batik milik warga pribumi, Tionghoa, Arab, dan tentu Belanda. Mereka ada yang bekerja sebagai pengrajin tetap, ada pula yang hanya panggilan.

Sebuah sensus tahun 1880 mencatat, ada sekitar lima ribu pembatik aktif di Pekalongan. Itu belum termasuk pekerja pewarnaan, pencelupan, pedagang keliling, dan lainnya. Tak hanya masyarakat Pekalongan, ada pula orang-orang Sumatra (Batak, Deli Serdang) yang menetap di Pekalongan karena menjadi pedagang maupun buruh angkut pengiriman batik Pekalongan ke Sumatra.[viii]

Baca juga >>> Batik: Warisan yang Terus Terjaga

Namun, semakin besar industri batik di Pekalongan kala itu, semakin keras pula kompetisi bisnis. Tak heran kemudian terjadi praktik ‘pembajakan’ tenaga kerja, juragan-juragan Tionghoa berusaha merekrut pembatik yang bekerja di pabrik-pabrik milik orang Belanda, tujuannya tak lain untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Dalam kasus ini, kita dapat melihat bahwa keahlian perempuan dalam membatik tak hanya menjadi motor perkembangan industri batik kala itu, tetapi sekaligus menjadi sesuatu yang diperhitungkan.

sejarah batik pekalongan dari tangan hingga mesin modern
Para pembatik perempuan tahun 1980-an (Sumber: Warta Yudha)

Pekalongan: P-nya “Perempuan”

Kini dunia memang telah memandang batik sebagai warisan budaya. Dan Pekalongan telah dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya warisan budaya tersebut. Sejarah telah mencatat bahwa perkembangan batik di Pekalongan tak pernah terlepas dari perempuan, sekalipun kebanyakan hanya sebagai buruh yang bekerja di tuan-tuan dan juragan. Tapi justru dari tangan-tangan pekerja itulah batik bisa hidup dan berkembang di Pekalongan. Ini membuktikan bahwa lembaran sejarah Pekalongan juga ditulis oleh kaum perempuan dengan tetesan malam (lilin untuk membatik) di atas kain. Pekalongan sepertinya P-nya “perempuan”. 


[i] Kusnin Asa, Batik Pekalongan dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan, 2006) hlm. 19.
[ii] Agustinus Supriyono, Draft Laporan Batik Pekalongan, (Semarang: Lembaga Penelitian Undip, 2010).
[iii] Harmen Veldhuisen, Batik Belanda 1840-1940, (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1993) dan Wawancara Moch. Dirhamsyah, 1 Maret 2018 yang dimuat dalam skripsi Fika Nurhayati, Batik Pekalongan pada Masa Kolonial (1830-1945), (FKIP UMP, 2018) hlm. 37-38.
[iv] Ibid hlm 38.
[v] Kusnin Asa, Batik Pekalongan dalam Lintasan Sejarah, (Pekalongan: Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan, 2006).
[vi] Wasino dan Endah Sri Hartatik, Dari Industri Gula Hingga Batik Pekalongan: Sejarah Sosial Ekonomi Pantai Utara Jawa pada Masa Kolonial Belanda, (Yogyakarta: Magnum, 2017)
[vii] Ibid
[viii] P. de Kat Angelino, Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete naar de Arbeidstoestanden in de Batikkerijen op Java en Madoera, Deel II (Batavia: Landsdrukkerij, 1930).

Ardhiatama Purnama Aji
Ardhiatama Purnama Aji

Tutor Bahasa Inggris, IPS, Sosiologi, dan Sejarah di New Primagama Solo Baru. Lulusan Ilmu Sejarah Unnes yang pernah menggarap skripsi tentang ekologi politis banjir Surakarta (1861-1938) dan artikel tentang serangan belalang kayu di Jawa (1878-1937).

Articles: 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *