oey kam long

Melanjutkan Sebuah Jenama: Perjuangan Oey Kam Long Mewarisi Batik OST

Peralihan kepemimpinan Rumah Batik Oey Soe Tjoen (OST) dari generasi pertama ke generasi kedua bukanlah proses yang dirancang secara sistematis. Proses itu adalah buah dari serangkaian peristiwa tragis yang memaksa keluarga mengambil keputusan cepat. Semula, keluarga menunjuk Oey Tjiep Nio, putri pertama Oey Soe Tjoen, sebagai penerus usaha. Alasannya jelas dan beralasan: ia terampil dalam menjahit, menyulam, dan membatik, serta menikah dengan Oey Bie Hian, keponakan OST yang juga berasal dari keluarga pembatik. Dengan demikian, kesinambungan teknik, tradisi, dan ikatan kekerabatan berada dalam satu garis.

Profil Oey Kam Long dan Istri (Sumber: Widianti)

Namun, kehendak sejarah kerap bergerak di luar rencana manusia. Pada 1969, Oey Tjiep Nio wafat bersama bayi yang baru dilahirkannya. Kepergian itu menjadi pukulan telak bagi keluarga, terutama bagi Kwee Nettie, ibunya. Kesehatan Kwee Nettie turut menurun karena kehilangan sang anak. Pada titik krisis itulah, Oey Soe Tjoen memanggil pulang anak laki-laki satu-satunya, Oey Kam Long, yang saat itu hampir meraih gelar sarjana hukum. Pendidikan formalnya harus ia tinggalkan demi sebuah prinsip yang hidup dalam keluarga Tionghoa peranakan: bakti.

Baca juga >> Profil Singkat Oey Kam Long

Keterlibatan Oey Kam Long dalam usaha batik keluarga tidak terjadi secara instan. Setelah menikah dengan Istijanti Setiono pada 1971, ia sempat menggeluti usaha telur asin bersama istrinya sebagai penopang ekonomi rumah tangga. Namun, di sela-sela usaha kecil itu, mereka tetap turun membantu produksi batik OST, khususnya dalam proses pewarnaan (ngelir) dan pelorodan malam (nglorod). Sejak awal, keterlibatan pasangan ini tidaklah administratif belaka—mereka benar-benar turun terlibat dalam kerja tangan, menyentuh langsung kerja-kerja produksi.

Perubahan arah hidup terjadi ketika Oey Soe Tjoen meninggal mendadak akibat serangan jantung pada 30 Juni 1976. Tanggung jawab besar tiba-tiba berpindah ke tangan Oey Kam Long dan Istijanti. Usaha telur asin ditutup, sementara Rumah Batik OST menjadi prioritas tunggal. Masa transisi ini bukan hanya memindahkan tongkat estafet, tetapi juga memindahkan beban tradisi dan reputasi yang sudah tertanam selama puluhan tahun. Oey Kam Long menjadi pewaris yang tidak hanya mengurus produksi, tetapi juga menjaga nama besar OST di mata para kolektor batik nasional dan internasional.

100 tahun oey soe tjoen
Salah satu motif kain batik Oey Soe Tjoen. (Sumber: Widianti)

Dalam menjaga kesinambungan tradisi, pasangan ini memilih jalan konservatif. Mereka mempertahankan pakem estetika OST: motif buketan, cuiri, merak ati, dan urang ayu tetap diproduksi. Bagi Oey Kam Long, membawa nama besar ayahnya berarti menjaga kualitas tanpa kompromi. Perubahan yang terlihat hanya pada preferensi warna: dominasi warna biru yang menjadi ciri khas selera pribadinya. Sementara itu, Istijanti memainkan peran penting dalam kontrol kualitas. Ia memastikan setiap kain batik memenuhi standar detail OST yang terkenal teliti.

Namun, masa transisi ini juga memperlihatkan pergeseran makna batik dalam lanskap sosial. Jika pada era Oey Soe Tjoen batik tulis halus menjadi mahar pernikahan kalangan peranakan Tionghoa, pada era Oey Kam Long batik OST mulai memasuki ruang prestise baru: menjadi simbol status di kalangan istri pejabat. Batik OST menjadi cenderamata eksklusif antar-elit birokrasi, bukan lagi sekadar pakaian adat. Pengakuan simbolik ini mencapai puncaknya ketika Ibu Negara Siti Hartinah (Tien Soeharto) memesan kain batik OST pada 1971—penanda legitimasi budaya sekaligus elitisme ekonomi.

Baca juga >> Profil Oey Soe Tjoen dan Perjalanannya

Reputasi OST juga merambah ke dunia internasional. Sejak kunjungan Rudolf Smend pada 1972, pesanan berdatangan dari Perancis, Jerman, Australia, dan Jepang. Keberhasilan komunikasi dengan pasar global tidak lepas dari peran Kwee Nettie yang fasih berbahasa Belanda serta Istijanti yang mahir bahasa Inggris. Pada masa itulah, karya OST menjadi komoditas budaya kelas dunia.

Peralihan generasi ini membuktikan bahwa tradisi tidak bertahan hanya dengan retorika warisan, tetapi melalui kerja keras, adaptasi, dan keteguhan mempertahankan mutu. Dari usaha telur asin hingga kembali menelurkan batik tulis halus Kedungwuni, kisah Oey Kam Long menjelma kisah perihal kesetiaan pada tradisi di tengah perubahan zaman—sebuah jembatan yang kelak diteruskan generasi berikutnya.

Sumber Tulisan:

Mawardi, Tatang. 2019. “Representasi Buketan pada Batik Oey Soe Tjoen”. Jurnal Urban 3 (1)
Tempo, 14 Agustus 1971
Wawancara dengan Widianti Widjaja (Oey Kiem Lian), 49 tahun, di Rumah Batik OST, Kedungwuni, 20 April 2025
Widjaja, Widianti. 2020. Oey Soe Tjoen: Merajut Asa dalam Sejuta Impian. (Lembaga Kajian Batik dan CV Selomita

Ardhiatama Purnama Aji
Ardhiatama Purnama Aji

Tutor Bahasa Inggris, IPS, Sosiologi, dan Sejarah di New Primagama Solo Baru. Lulusan Ilmu Sejarah Unnes yang pernah menggarap skripsi tentang ekologi politis banjir Surakarta (1861-1938) dan artikel tentang serangan belalang kayu di Jawa (1878-1937).

Articles: 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *