keluarga oey soe tjoen

Batik Oey Soe Tjoen: Dirintis Kala Batik Cap Tengah Eksis

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas tentang Profil Oey Soe Tjoen, pengusaha batik tulis dari Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Dalam sejarah batik Pekalongan bahkan Indonesia, Oey Soe Tjoen punya posisi khusus karena usaha batik tulisnya mampu bertahan selama tiga generasi, melintasi gempuran batik cap hingga printing. Ia mulai merintis usaha sejak 1925, saat ini dikelola oleh cucunya, Oey Kiem Lian atau Widianti Widjaja. Bagaimana awal mula Oey Soe Tjoen merintis?

Baca artikel tentang Batik Oey Soe Tjoen lainnya di sini!

Ketika Oey Soe Tjoen memulai usahanya pada 1925, industri batik di Pekalongan tengah menanjak. Terjadi ledakan jumlah pengusaha batik dan tentu saja produksinya. Dalam laporan Memorie van Overgave Residen Pekalongan J.E. Jasper (1926) tercatat, dalam jangka waktu setahun sejak 1924-1925  jumlah pabrik/usaha rumahan batik meningkat dari 619 menjadi 875. Itu diikuti pula dengan peningkatan jumlah pekerja dari 5.482 orang (pada tahun 1924) menjadi 7.202 orang (pada 1925). Artinya, dalam setahun itu sebanyak 256 pabrik/usaha rumahan batik anyar berdiri dan menyerap 1.720 orang pekerja.

Keluarga Oey Soe Tjoen (Sumber: Widianti Widjaja, 2020)

Di Kedungwuni tempat Oey Soe Tjoen mendirikan usaha, lonjakannya bahkan lebih dari dua kali lipat, dari 41 menjadi 98 pabrik/usaha rumahan batik. Artinya, ada 57 usaha batik anyar berdiri di Kedungwuni pada kurun waktu 1924-1925.[i] Satu sisi ini merupakan sebuah lonjakan yang mungkin menggembirakan bagi pemerintah kolonial kala itu, tapi bagi pengusaha-pengusaha baru termasuk Oey Soe Tjoen, ini merupakan alarm persaingan yang berbunyi nyaring.

Tapi Oey Soe Tjoen tidak hanya menghadapi alarm persaingan itu. Ada hal lain di depan mata yang harus ia sikapi lebih dulu sebelum alarm itu. Dalam lingkup keluarga besarnya, sudah ada dua usaha batik yang sudah lebih dulu berlayar dengan merk berbeda. Pertama, usaha batik milik orang tuanya (Oey Kie Boen). Kedua, milik kakak perempuannya (tapi atas nama suaminya). Kedua usaha ini memproduksi batik cap dan tulis, dikerjakan di dalam satu rumah. Kenyataan ini jadi dilema bagi Oey Soe Tjoen: apabila memproduksi batik cap dan tulis seperti milik orang tua dan kakaknya, maka sejak awal merintis ia sudah harus bersaing dengan keluarganya. Itulah yang akhirnya membuat Oey Soe Tjoen memutuskan untuk menempuh jalur fokus batik tulis.[ii]

Baca juga >>> Profil Oey Soe Tjoen

Dalam mengambil keputusan itu, Oey Soe Tjoen juga terinspirasi Elizabeth Charlotte van Zuylen, seorang Indo-Eropa yang memiliki usaha batik di Pekalongan sejak 1890. Warga Pekalongan memanggilnya “Panselen”. Pada tahun 1918, usaha milik Eliza van Zuylen ini menjadi perusahaan batik Indo-Eropa terbesar di Jawa.[iii]

Setidaknya ada dua hal dari Eliza van Zuylen yang menginspirasi Oey Soe Tjoen. Pertama, strategi bisnis yang hanya memproduksi batik premium dengan target pasar peranakan Tionghoa. Kedua, teknik batik tulis dan motif yang diterapkan.[iv] Keputusan Oey Soe Tjoen hanya memproduksi batik tulis mendukung untuk terciptanya batik premium, sebab produksi batik cap kala itu dengan harga lebih murah sedang masif, sehingga batik tulis menjadi eksklusif dengan sendirinya.

Baca juga >>> Memperingati Seabad Berkarya: Batik Oey Soe Tjoen Mengadakan Pameran Tunggal

Era awal usaha berdiri, Oey Soe Tjoen mengikuti cara Eliza van Zuylen. Ia menjual batiknya ke juragan-juragan peranakan Tionghoa. Oey Soe Tjoen melakukannya dengan cara berkeliling, dari pintu ke pintu. Tak hanya di Pekalongan, tetapi juga ke luar daerah seperti ke juragan-juragan cengkeh dan rokok di Kudus. Bahkan ada cerita, saat Oey Soe Tjoen datang ke rumah juragan rokok di Kudus, kolega juragan tersebut sudah kumpul. Sebab mereka sebelumnya sudah diberitahu tahun tuan rumah bahwa Oey Soe Tjoen, pembatik asal Pekalongan yang jadi langganannya itu akan datang. Dari situlah nama dan batik Oey Soe Tjoen mulai dikenal di lingkaran para juragan. Bahkan para juragan-juragan itu meminta Oey Soe Tjoen datang ke rumah saudara-saudaranya di beberapa daerah lain, salah satunya di Magelang.[v]

oey soe tjoen sedang membatik
Oey Soe Tjoen dan Kwee Nettii sedang menjemur kain batik karyanya. (Sumber: Widianti Widjaja, 2020)

Menembus kalangan juragan bukan hal mudah karena mereka punya selera tertentu. Itu yang kemudian menempa Oey Soe Tjoen hingga memiliki standar kualitas, baik dari segi kain, motif, maupun pewarnaan. Strategi menyasar kalangan tertentu ini masih dipertahankan oleh penerus Oey Soe Tjoen. Oleh para penerusnya, strategi tersebut yang dinilai membuat Batik Oey Soe Tjoen mampu bertahan hingga sekarang dan bisa melewati masa-masa krisis ekonomi. Sebab ketika krisis ekonomi melanda, para juragan tidak terlalu terdampak, sehingga daya beli pasar Batik Oey Soe Tjoen tidak begitu terganggu.[vi]

Baca juga >>> Perjuangan Oey Kam Long: Generasi Kedua Oey Soe Tjoen


[i] P. de Kat Angelino, Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete naar de Arbeidstoestanden in de Batikkerijen op Java en Madoera, Deel II (Batavia: Landsdrukkerij, 1930) hlm. 214.
[ii] Wawancara dengan Widianti Widjaja (cucu Oey Soe Tjoen), 20 April 2025.
[iii] Helen Iswhara, dkk, Batik Pesisir Pusaka Indonesia: Koleksi Hartono Sumarsono (Jakarta: KPG, 2011), hlm. 90.
[iv] Wawancara dengan Widianti Widjaja (cucu Oey Soe Tjoen), 20 April 2025.
[v] Wawancara dengan Widianti Widjaja (cucu Oey Soe Tjoen), 20 April 2025.
[vi] Wawancara dengan Widianti Widjaja (cucu Oey Soe Tjoen), 20 April 2025.

Ardhiatama Purnama Aji
Ardhiatama Purnama Aji

Tutor Bahasa Inggris, IPS, Sosiologi, dan Sejarah di New Primagama Solo Baru. Lulusan Ilmu Sejarah Unnes yang pernah menggarap skripsi tentang ekologi politis banjir Surakarta (1861-1938) dan artikel tentang serangan belalang kayu di Jawa (1878-1937).

Articles: 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *