oey soe tjoen kedungwuni

Oey Soe Tjoen: Profil dan Perjalanannya Melahirkan Batik Tulis yang Mendunia

“Itulah batik terbaik yang bisa dibeli. Setiap tahun saya menabung untuk membeli satu batik dari Eliza van Zuylen dan satu dari Oey Soe Tjoen”

ilustrasi profil oey soe tjoen kedungwuni
Ilustrasi oleh Riziq

Kalimat singkat itu terlontar dari Inger McCabe Elliot, seorang pengusaha, fotografer, sekaligus seniman Amerika kelahiran Norwegia (1933-2024). Kalimat itu ia tulis dalam buku karyanya berjudul Batik: Fabled Cloth of Java yang terbit kali pertama pada tahun 1984 di New York, Amerika Serikat.[i] Buku tersebut yang boleh dibilang membawa Batik Oey Soe Tjoen makin dikenal luas hingga kemudian diburu orang-orang mancanegara. Usai buku tersebut terbit dan beredar ke berbagai negara, Batik Oey Soe Tjoen yang diproduksi di sebuah rumah di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia, itu kemudian turut terbang ke berbagai penjuru dunia. Tahun 2016, Batik Oey Soe Tjoen menjadi salah satu koleksi tetap Asian Art Museum di San Francisco, Amerika Serikat. Ini menegaskan batik asal pesisir Jawa itu memang dikenal dan diperhitungkan.

batik oey soe tjoen
Batik Oey Soe Tjoen. (Sumber: Widianti)

Namun jauh sebelum batik karyanya dipajang di museum San Francisco itu, kemunculan Oey Soe Tjoen di Jawa tak terlepas dari gelombang besar perantauan orang-orang Tiongkok ke penjuru dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Buyutnya, Oey Bie, adalah salah seorang dari mereka. Ia meninggalkan Tiongkok pada 1820 lalu mendarat di Batavia.

Baca juga >> Widianti Widjaja: Penerus Batik Oey Soe Tjoen

Dalam penelitian Kwee Hui Kian tentang ekonomi-politik pesisir Jawa, jumlah komunitas Tionghoa di kawasan Asia Tenggara mulai meningkat signifikan sejak akhir abad ke-17 sampai awal abad ke-18. Kwee Hui Kian bahkan menyebut abad ke-18 sebagai “Abad Tionghoa” karena begitu masifnya pedagang Tionghoa datang ke Asia Tenggara, termasuk di pantai utara Jawa.[ii] Fenomena gelombang perantauan ini bukan kebetulan sejarah, melainkan karena krisis pangan dan ledakan populasi di Tiongkok yang membuat pemerintahan Dinasti Qing membuka kembali jalur perdagangan laut untuk menstabilkan pasokan pangan. Sebelumnya, Dinasti Qing sempat melarang kebijakan perdagangan laut pada tahun 1717 karena untuk membatasi kapal-kapal penyelundup yang memuat beras ke Luzon (Filipina) dan Jawa.

Seperti kebanyakan pendatang atau perantau asal Tiongkok kala itu, Oey Bie mula-mula berdagang apa saja. Ia kemudian menikah dengan gadis peranakan Tionghoa bernama Mak Subur. Dari pernikahan tersebut, lahir anak laki-laki bernama Oey Kheng Tik yang kemudian memutuskan merantau ke Kedungwuni, Pekalongan.[iii]

Baca juga >> Peran Koperasi Batik dalam Pelemahan Ekonomi masa Orde Baru

Oey Kheng Tik pada masa mudanya dikenal sebagai pedagang keliling yang menjajakan barang dagangan keluar-masuk wilayah pecinan di sejumlah daerah. Dia menjual apa saja, mulai dari peralatan rumah tangga, kain, pakaian, hingga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, ia mulai melirik kain batik untuk jadi barang dagangannya. Sebab kala itu sarung encim banyak dikenakan perempuan peranakan sebagai pakaian sehari-hari. Berbekal pengalaman panjang sebagai pedagang, Oey Kheng Tik membaca arah pasar dan melihat kebutuhan kain batik akan meningkat. Melihat itu sebagai peluang, akhirnya ia mulai memproduksi kain batik sendiri, bukan sebagai pedagang batik yang menjual ke pasar-pasar.[iv] Oey Kheng Tik dikaruniai enam anak. Keenamnya menggeluti usaha batik. Salah satunya yakni Oey Kie Boen yang tak lain ialah ayah Oey Soe Tjoen.

Kelahiran dan Jalan Berbeda Oey Soe Tjoen

Oey Soe Tjoen merupakan anak kedua pasangan Oey Kie Boen dan Sauw Giok Nio, ia lahir pada 15 Mei 1901. Ya, dia lahir dari keluarga pembatik. Sejak lahir, Oey Soe Tjoen memang sudah berada dalam serba-serbi dapur pembatikan. Boleh dibilang, Oey Soe Tjoen yang kelak kemudian namanya mendunia atas karya batiknya itu, memang lahir dengan “privilese perbatikan”. Tapi tentu itu saja tidak cukup untuk melambungkan namanya.

Oey Soe Tjoen dan Istri Kwee Netti. (Sumber: Widianti)

Pekalongan pada awal abad ke-20 adalah medan persaingan keras. Para pembatik Indo-Eropa, Arab, dan bumiputra bersaing ketat di pasar yang kian terbuka. Selain itu, teknik batik cap telah berkembang dan naik daun, menyaingi batik tulis yang lebih rumit dan mahal. Oey Kie Boen, juga telah memakai teknik cap, bahkan sejak teknik itu familiar digunakan oleh para pengusaha batik di Pekalongan pada 1870-an. Di tengah riuh itu, Oey Soe Tjoen muda memutuskan tak sekadar menjadi penerus usaha ayahnya, ia ingin mengambil jalan yang agak berbeda. Ia menolak tergoda oleh kecepatan produksi dan lebih memilih jalan ketelitian serta menekankan kehalusan juga keindahan–Oey Soe Tjoen memilih memproduksi batik tulis.

Baca juga >> Peran Perempuan di Industri Batik Pekalongan

Geliat usaha Oey Soe Tjoen menguat setelah ia menikah dengan Kwee Netti (Kwee Tjoen Giok). Kwee Netti juga berasal dari keluarga pembatik di Batang yang dikenal ahli dalam proses ketelan mori (tahapan penting sebelum kain dibatik).[v] Pernikahan itu seakan menjadi jalan mujur bagi Oey Soe Tjoen. Bersama istrinya itu, pada 1925, Oey Soe Tjoen resmi mendirikan usaha batik tulis. Dalam tradisi Tionghoa, seorang laki-laki yang telah menikah dianggap siap menafkahi keluarganya, karena itu ia berhak menggunakan namanya sendiri sebagai merk produk usahanya. Sejak itulah nama Oey Soe Tjoen tercantum di setiap kain batik karyanya.

Dalam cerita yang dituturkan turun-temurun di keluarga Oey Soe Tjoen, Kwee Netti merupakan sosok yang perfeksionis dan teliti. Ia tak segan batal menjual batik yang ia anggap tak sempurna, meski sudah dikerjakan berbulan-bulan. Sedikit saja ada cacat atau goresan yang tak semestinya, Kwee Netti tak akan membiarkan pembeli meminang kain batik itu, biarpun proses pengerjaannya memakan waktu lama dan biaya produksi yang berlipat. Prinsip ini yang dipertahankan dan diwariskan ke tangan Widianti Widjaja (Oey Kiem Lian), generasi ketiga Batik Oey Soe Tjoen (cucu Oey Soe Tjoen). Widianti Widjaja (Widia) pernah mengulang pembuatan sehelai kain batik pesanan seseorang sampai empat kali gara-gara hasil tak sempurna, padahal sekali pembuatannya bisa butuh waktu 1,5 sampai 3 tahun, bahkan lebih.[vi] Ini menunjukkan keluarga Oey Soe Tjoen benar-benar telaten menjaga kualitas batik karya mereka. Tak heran batik mereka mendunia.


[i] Inger McCabe Elliot, Batik: Fabled Cloth of Java (New York: Potter, edisi pertama, 1984; edisi Periplus, 2004) hlm: 30.
[ii] Kwee Hui Kian, The Political Economy of Java’s Northeast Coast, c. 1740-1800: Elite Synergy (Leiden-Boston: Brill, 2006), hlm: 13.
[iii] Widianti Widjaja, Merajut Asa dalam Sejuta Impian (Pekalongan: Lembaga Kerajinan Batik, 2020), hlm: 147.
[iv] Ibid
[v] Wawancara dengan Widianti Widjaja, 20 April 2025.
[vi] Ibid

Ardhiatama Purnama Aji
Ardhiatama Purnama Aji

Tutor Bahasa Inggris, IPS, Sosiologi, dan Sejarah di New Primagama Solo Baru. Lulusan Ilmu Sejarah Unnes yang pernah menggarap skripsi tentang ekologi politis banjir Surakarta (1861-1938) dan artikel tentang serangan belalang kayu di Jawa (1878-1937).

Articles: 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *