
Dekade 1970-an menandai babak berat bagi batik Pekalongan. Kota yang dulu riuh oleh deru vespa, kegiatan produksi, dan geliat ekonomi rakyat mendadak muram. Pabrik-pabrik cap gulung tikar, para buruh migrasi ke Jakarta demi menyambung hidup, dan pasar lokal digulung gelombang batik murah dari luar kota. Namun di tengah arus besar yang menggerus banyak usaha batik, satu rumah produksi tetap tegak berdiri: Rumah Batik Oey Soe Tjoen (OST) di Kedungwuni. Keuletan dan mutunya menjaga nama mereka tetap harum, terlebih setelah kurator batik asal Jerman, Rudolf Smend, memperkenalkan karya OST ke panggung internasional pada 1972.
Namun sejarah tidak berjalan tanpa guncangan. Ketika Oey Soe Tjoen wafat tahun 1976, warisan batik bernilai tinggi itu jatuh ke tangan anak-menantunya, Oey Kam Long dan Lie Tjien Nio. Pada tahun yang sama lahir cucu Oey Soe Tjoen: Oey Kiem Lian—kelak dikenal sebagai Widianti Widjaja—sosok yang takdirkan memikul tongkat estafet keluarga pada abad ke-21. Namun, ia tidak langsung tumbuh dalam dunia batik. Masa mudanya ditempuh dalam jalur pendidikan formal. Widianti bersekolah di Pekalongan dan melanjutkan kuliah akuntansi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, lulus 1999. Kehidupan awalnya mengarah kepada dunia korporasi, bukan batik.

Segalanya berubah pada 2002. Setelah sempat bekerja di sebuah perusahaan keuangan di Semarang, krisis pekerjaan menghentikan kiprahnya. Rencana merantau ke Jakarta gagal ketika dokumen-dokumen pentingnya tiba-tiba hilang. Pada saat yang nyaris bersamaan, ayahnya wafat sebulan setelah pernikahannya dengan Setyo Purwanto. Dari sanalah jalannya ditentukan: kembali ke Kedungwuni untuk meneruskan usaha batik keluarga. Tanpa pengalaman produksi yang memadai, ia memulai dari titik nol—belajar memegang canting, meraba arah warna, hingga menata ritme produksi yang lama ditinggalkan.
Baca juga >>> Oey Kam Long: Generasi Kedua Batik Oey Soe Tjoen
Tantangan kemudian datang bertubi-tubi. Misalnya, anggapan para pembatik senior meremehkannya sebagai “anak baru” yang belum paham batik halus. Jumlah tenaga pembatik menurun drastis, dari ratusan di masa Oey Kam Long menjadi hanya belasan orang ketika Widianti mengambil alih. Ia harus memimpin bukan dalam kemapanan, melainkan dalam beraneka kekurangan. Kondisi makin berat setelah Bom Bali 2002 memukul industri pariwisata nasional. Banyak pelanggan mancanegara membatalkan pesanan batik OST, yang memang lebih laku di luar negeri. Ekonomi rumah produksi terguncang, reputasi OST pun turut diterpa rumor bahwa usaha ini telah tutup.

Belum pulih dari badai pertama, badai kedua datang. Krisis minyak tanah 2005 nyaris mematikan produksi batik. Kenaikan harga energi membebani rumah tangga, sementara peraturan yang timpang membuat perbuatan pembelian minyak tanah dicurigai penimbunan. Demi menghindari sentimen rasial kala itu, Widianti memutuskan untuk menghentikan produksi untuk sementara dan merumahkan sebagian pekerja. Pada saat lain, penjiplakan batik OST merebak. Dari industri tekstil printing hingga oknum pembatik, corak OST digandakan tanpa malu dan tanpa kepastian hukum.
Baca juga >>> Pameran 100 Tahun Batik OST
Namun sejarah keluarga ini diselamatkan oleh ketekunan dan ketangguhan Widianti. Perlahan Widianti bangkit. Titik baliknya justru datang dari seorang wisatawan Jepang yang memesan kain batik bermotif Hokokai sekitar tahun 2004–2005. Permintaan yang tidak biasa itu membuka kembali daya eksplorasi kreatif OST. Sejak saat itu, roda produksi hidup kembali, kolektor berdatangan, dan motif Hokokai OST kembali meraih ketenaran. Pada 2009, pesanan membanjir, reputasi OST terangkat lagi, dan pada era Widianti tradisi tak sekadar dipertahankan—ia juga dihidupkan ulang.
Sumber Bacaan
Kompas, 1 Agustus 2025
Suara Karya, 13 Oktober 2004
Tempo, 14 Agustus 1971
Waspada, 5 Maret 2005
Widjaja, Widianti. 2020. Oey Soe Tjoen: Merajut Asa dalam Sejuta Impian. Lembaga Kajian Batik dan CV Selomita.




