generasi ketiga batik oey soe tjoen

Senukil tentang Batik Peranakan di Pekalongan

Kiprah Batik Peranakan di Pekalongan selalu sarat akan cerita tentang pertemuan panjang antara budaya, sejarah, dan ketekunan manusia. Di kota pesisir yang kini dikenal sebagai “Kota Batik” itu, batik tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari perjumpaan lintas etnis dan lintas zaman—antara perajin Jawa, pengusaha Tionghoa Peranakan, dan pengaruh kolonial Eropa yang bersama-sama menganyam identitas visual Pekalongan.

generasi ketiga batik oey soe tjoen
Batik Peranakan Oey Soe Tjoen Melakukan Pameran memperingati 100 Tahun. (Sumber: dokumen pribadi)

Dari perjumpaan itu, lahirlah batik dengan warna-warna yang berani, motif yang halus, dan simbol-simbol yang memadukan Timur dan Barat. Keindahan dan kerumitan itulah yang kelak mengantarkan Pekalongan masuk dalam UNESCO Creative Cities Network pada 2014. Dengan kata lain, batik dari Pekalongan diakui karena kreativitasnya yang berakar dari tradisi.

Baca juga >> Keindahan Batik Oey Soe Tjoen dipamerkan di Jakarta

Jejak awalnya bisa ditelusuri pada abad ke-19, ketika para pedagang asal Fujian dan Guangdong berlabuh di pelabuhan utara Jawa. Sebagian dari mereka menetap, berdagang, dan membangun keluarga bersama perempuan lokal. Dari perkawinan itu lahirlah komunitas Tionghoa Peranakan, generasi yang tidak sepenuhnya Tionghoa dan tidak pula sepenuhnya Jawa, tapi justru menciptakan sebentu ruang identitas baru. Mereka mengekspresikan keperanakan itu lewat batik tulis. Batik tulis menjelma medium yang menaungi motif naga, burung phoenix, kupu-kupu, dan bunga dengan pola geometris Jawa dan warna-warna pastel khas Eropa. Bagi mereka, batik bukan sekadar sandang, melainkan simbol percampuran dan strategi bertahan di tengah perubahan sosial.

batik pekalongan
Batik Buketan karya Kwee Nettie dibuat sektar tahun 1925 (Sumber: collectie.wereldculturen.nl)

Salah satu mahakarya dari warisan itu adalah Batik Oey Soe Tjoen di Kedungwuni, yang berdiri sejak 1925. Rumah batik ini dikenal dengan pengerjaan yang sepenuhnya manual, kain primissima berkualitas tinggi, dan motif rumit seperti Buketan, Cuiri, Merak Ati, hingga Urang Ayu. Tiap helai kain bisa dikerjakan hingga satu setengah tahun oleh belasan tangan terampil yang menguasai pola titik dan garis (isen-isen) dengan presisi nyaris sempurna. Burung merak yang gagah, bunga mawar yang lembut, dan kupu-kupu yang beterbangan menjadi citra yang menghidupkan kain, menjadikannya bukan sekadar busana, melainkan karya seni yang merepresentasikan kecermatan dan kesabaran. Tak heran, batik Oey Soe Tjoen kini menjadi buruan kolektor dunia.

Baca juga >>> Batik Tulis Oey Soe Tjoen justru dirintis ketika booming Batik Cap

Namun, pengaruh Tionghoa Peranakan di Pekalongan tidak berhenti pada batik. Ia juga berjejak dalam arsitektur, seperti bangunan The Sidji Hotel milik keluarga Hoo Tong Koey. Di sana, warna turquoise khas Tionghoa berpadu dengan langgam kolonial Belanda dan tegel (lantai) Jawa, menghadirkan rumah yang sekaligus cerminan dari keberanian untuk membuka diri pada dunia tanpa kehilangan akar lokalnya.

Kini, semangat akulturasi itu menemukan bentuk baru. Motif-motif batik Peranakan seperti Buketan dan isen-isen mulai diterjemahkan dalam desain modern—dari mode hingga perhiasan—sebagai lapisan kultural (cultural layer) yang terus hidup dan bertransformasi. Dengan cara itu, warisan batik Peranakan tidak membeku dalam romantisme masa silam, tapi bertumbuh dalam pergeseran zaman.

Baca juga >>> Batik Pekalongan dan Peran Perempuan

Pada akhirnya, Batik Peranakan Pekalongan mengisahkan daya hidup sebuah budaya: bagaimana ia menyerap, mengolah, lalu menurunkan pengaruh lintas dunia menjadi bentuk estetika yang khas. Ia menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang statis, melainkan proses panjang yang disuburkan oleh perjumpaan dan keberanian untuk beradaptasi. Batik Peranakan Pekalongan turut menghadirkan sebuah pelajaran tentang bagaimana warisan bisa tetap hidup di tengah arus modernitas.

Sumber Tulisan:

Budianto, Erica dan Yan Yan Sunarya. 2020. The Influence of Peranakan Chinese Visual Culture in Pekalongan. In Proceedings of the 1st International Conference on Interdisciplinary Arts and Humanities (ICONARTIES 2019). SCITEPRESS Science and Technology Publications.

Gumulya, Devanny dan Anna Surjani. 2023. Translating Batik Peranakan Motifs into Jewelry Design with Cultural Layer Model. ISOLEC: International Seminar of Language, Education, and Culture digelar oleh Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Nuraryo, Imam et al. 2023. “Batik” Cultural Heritage to Construct City Branding: A Case of Pekalongan. In The Third International Conference on Innovations in Social Sciences Education and Engineering (ICoISSEE-3), Bandung, Indonesia.

Ardhiatama Purnama Aji
Ardhiatama Purnama Aji

Tutor Bahasa Inggris, IPS, Sosiologi, dan Sejarah di New Primagama Solo Baru. Lulusan Ilmu Sejarah Unnes yang pernah menggarap skripsi tentang ekologi politis banjir Surakarta (1861-1938) dan artikel tentang serangan belalang kayu di Jawa (1878-1937).

Articles: 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *