Batik Oey Soe Tjoen kini sudah berusia tiga generasi. Mbak Widya, sebagai generasi penerus kakeknya, selalu berupaya tidak hanya menjaga tradisi, namun juga memajukannya dengan tetap bergelut di industri seni batik tulis peranakan di Pekalongan. Mengenalkan kepada dunia satu bagian dari warisan budaya yang diakui UNESCO.
Pengantar Penulis Buku OEY SOE TJOEN: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan
Hari ini, kita mengenal Kedungwuni sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan yang memiliki seabrek bos (pengusaha) konfeksi. Mulai dari konfeksi celana jins, baju muslim, daster, kemeja, dan banyak lainnya. Tak heran, apabila berkeliling di Kedungwuni, kita akan banyak mendapati orang mengendarai sepeda motor membawa tumpukan bahan konfeksi setengah jadi. Biasanya mereka itu sedang menuju ke atau dari rumah-rumah penduduk untuk mengambil atau mengantar bahan konfeksi setengah jadi tersebut. Kebanyakan bos konfeksi di Kedungwuni masih membutuhkan tenaga harian lepas untuk mengerjakan pembersihan benang, pemasangan kancing, penjahitan, atau pemotongan bahan. Pekerjaan-pekerjaan itu rata-rata digarap oleh para penduduk di rumah mereka masing-masing sebagai sambilan. Ini yang membuat jalanan Kedungwuni selalu dilintasi pemotor berboncengan bahan konfeksi. Begitulah, pemandangan sehari-hari Kedungwuni yang boleh dikatakan sebagai salah satu kecamatan tersibuk dan zona perputaran uang terbesar di Kabupaten Pekalongan.
Kedungwuni juga dikenal sebagai daerah bernuansa religi kental – terutama Islam. Banyak pondok pesantren di kecamatan ini. Di kampung-kampung dan gang-gang kecil, surau maupun masjid nyaris tak pernah sepi ketika jam-jam setelah dan sebelum salat fardu. Ada saja orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang beraktivitas atau sekadar duduk-duduk di serambi masjid maupun surau. Apalagi usai ada pengajian rutin yang diampu kiai kampung.
Kaum ibu-ibu juga demikian. Mereka berkelompok membentuk paguyuban pengajian membaca kitab barzanji. Pelaksanaannya rutinan, tempatnya bergilir di rumah anggota paguyuban. Di Kedungwuni, aktivitas sosial keagamaan semacam itu masih hidup.
Tapi Kedungwuni ternyata tidak melulu soal pengusaha konfeksi, kiai, dan santri. Seperti halnya kebanyakan daerah lain di Kabupaten Pekalongan, Kedungwuni punya rekam jejak dalam dunia industri batik. Pada 1925, Pekalongan mengalami peningkatan signifikan jumlah pabrik maupun usaha batik rumahan. Dalam setahun (1924-1925), muncul 256 pabrik batik maupun usaha batik rumahan baru. Dari total data itu, peningkatan di Kedungwuni salah satu yang cukup signifikan. Detail datanya ada di dalam buku ini.
Dari fakta itu, serta melihat kondisi Kedungwuni hari ini yang menjadi tempat tumbuh suburnya para pengusaha, sepertinya Kedungwuni punya DNA yang mendukung masyarakatnya untuk berwirausaha. Saya melihat dan merasakan, daerah tempat saya dilahirkan ini, memang punya iklim, atmosfer, euforia, yang menempa masyarakatnya untuk berwirausaha.
Soal rekam jejak industri batik di Kedungwuni, ada satu nama pengusaha batik tulis yang mencuri perhatian saya. Kala itu tahun 2021, secara tak sengaja saya melihat sebuah konten yang melintas di beranda instagram. Saya lupa detail konten tersebut dan nama akun yang mengunggahnya. Yang saya ingat, konten tersebut menyebut nama Oey Soe Tjoen dan menarasikannya sebagai pengusaha dan maestro batik tulis asal Kedungwuni. Sejak saat itu saya mulai membaca-membaca soal Oey Soe Tjoen. Saya juga mencoba mencari tahu dengan cara bertanya kepada saudara, kerabat, dan orang tua saya soal Oey Soe Tjoen itu. Hasilnya, mereka mengetahui nama itu sebagai merek batik tulis. Tapi mereka tak menyebut nama itu secara lengkap, melainkan hanya “iya, itu batik Soe Tjoen, batik ART”. Untuk nama yang disebut kedua, belakangan saya ketahui itu merupakan papan nama di depan rumah batik Oey Soe Tjoen.
Saya tak segera mendatangi rumah batik Oey Soe Tjoen sejak mendapatkan informasi itu. Baru pada tahun 2022, ketika ndilalah saya mendapat tugas liputan tematik, saya untuk kali pertama mengetuk rumah sang maestro. Rumah yang menjadi saksi bisu kiprah Oey Soe Tjoen itu kini ditempati Oey Kiem Lian atau Widianti Widjaja. Dia cucu Oey Soe Tjoen, sekaligus penerus usaha. Saya memanggilnya “Mbak Widia”.
Begitulah, akhirnya saya mewawancarai Mbak Widia, sekaligus menjadi awal perjumpaan saya dengan narasi perjalanan Oey Soe Tjoen yang saat itu tentu saja belum mendalam. Itu membuat rasa ingin tahu saya menguat: mengapa batik tulis Oey Soe Tjoen bisa bertahan (saat itu) hampir seabad? Bagaimana mereka bertahan di tengah gencarnya industri batik cap hingga printing? Bagaimana kiprah mereka selama ini? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang mendorong saya ingin tahu lebih dalam tentang kiprah Oey Soe Tjoen dan batik tulis produksinya.
Sejak kali pertama bertatap muka dengan Mbak Widia kala itu, saya sudah nyeplos mengutarakan niat ingin meriset perjalanan sejarah Oey Soe Tjoen. Mbak Widia menyambut dengan senyum dan menjawab “Enggak apa-apa, silakan saja”. Tentu saja saat itu tak terbayang akan seperti apa dan bagaimana riset yang akan saya lakukan. Gayung bersambut, pada tahun 2023 teman-teman Kulturpedia memberi informasi bahwa ada program pendanaan untuk penelitian dari Kementerian Kebudayaan (saat itu Kemendikbudristek). Namanya program Dana Indonesiana.
Dari sana pembicaraan dengan teman-teman Kulturpedia mengerucut dan akhirnya sepakat menjadikan Batik Oey Soe Tjoen sebagai objek penelitian untuk diajukan ke seleksi Dana Indonesiana. Mereka mendorong saya mendaftar kategori kajian objek pemajuan kebudayaan. Seolah menjadi jalan, proposal pe-nelitian sejarah batik tulis Oey Soe Tjoen diterima pihak Dana Indonesiana.
Demikianlah, semua tahapan dan proses penelitian hingga terbitnya buku Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan ini disponsori oleh program Dana Indonesiana. Mulai dari persiapan pembentukan tim riset, penelusuran lapangan, pencarian arsip, wawancara berbagai narasumber, hingga penerbitan buku ini, semua didanai oleh program tersebut.
Dalam perjalanan penyusunan sampai terbitnya buku ini, saya perlu mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak. Terutama sekali kepada Mbak Widia dan keluarganya yang telah menerima saya dengan hangat, serta secara kooperatif memberikan akses dokumen, dan membuka ruang dialog. Para pembatik yang bekerja di Rumah Batik OST yang bersedia membagikan kesaksiannya. Kepada rekan-rekan Kulturpedia yang menjadi mitra diskusi sejak prapenelitian sampai finis.
Terima kasih juga kepada Pak Tsabit Azinar Ahmad, dosen sejarah di Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang memberi masukan dalam penyusunan kerangka buku. Juga kepada pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pekalongan yang memperbolehkan sekretariatnya digunakan untuk tempat menginap dan singgah kami saat beberapa kali melakukan riset lapangan. Terima kasih juga kami layangkan kepada para narasumber pendukung: Sugijanto H. Soetopo (kolektor kain batik), Peter Carey (sejarawan), dan Asip Kholbihi (mantan Bupati Pekalongan, warga Kedungwuni).
Kami tim penulis (saya, Asep Syaeful Bachri, dan Ardhiatama Purnama Aji) menyadari sepenuhnya bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf apabila terdapat kekeliruan data, penafsiran, atau penyajian. Kami membuka ruang selebar-lebarnya untuk kritik, saran, maupun koreksi dari para pembaca.
Mewakili tim penulis, saya ucapkan selamat membaca. Semoga isi buku ini dapat memantik diskusi dan dialektika tentang batik, sejarah Pekalongan, dan warisan budaya.
Salam!
Sragi, Kabupaten Pekalongan, 26 November 2026
Nanang Rendi Ahmad
Link Unduh Versi E-BOOK (PDF)
Silahkan unduh melalui tautan berikut bit.ly/oeysoetjoen

